Menjelang tua makin tampak jelas luka dihadi kiri Soekarno akibat jatuh dibawah pohon beringin.

Ternyata bukan hanya Soekarno tokoh besar dunia yang mempunyai luka di dahi. Umar bin Abdul Aziz tokoh besar yang terkenal di dunia Islam juga mempunyai luka seperti Soekarno.

Kholifah Umar bin Abdul Aziz seroang pemimpin paling masyhur di dunia Islam. Dia dipandang sebagai sosok yang sholih dan sampai disebut sebagai khulafaur rasyidin kelima.

Menariknya, justru karena ada luka dihadinya itulah Abdul Aziz diangkat jadi Kholifah padahal dia sebenarnya ssempat menolak keras, dia betul-betul tidak mau.

Tokoh Tasawwuf yang menjadi kepala negara yang adil dan bijaksana

Tapi karena ada tanda luka di dahinya itulah Umar bin Abdul Aziz bertekuk tulut dan ahirnya dia tidak bisa mengelak.

Semula Umar Abdul Aziz adalah soerang Gubernur Madinah dan dia bukan seorang putra mahkota yang semestinya memang tidak bisa menjadi Kholifah.

Tetapi karena ada wasiat dari kakekanya yang mengatakan bahwa besok kalau ada cucunya yang punya luka di dahinya maka angkatlah dia sebagai Kholifah karena dia akan menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Pesan Marwan kakeknya Kholifah bani Umayyah yang menjadikan mereka sepakat megangkat Umar bin Abdul Aziz.

Hanya dua tahun memimpin tapi perubahan dan pengaruhnya sungguh luar biasa.

Sama-sama mempunyai luka didahi. Sama-sama menjadi pemimpin besar yang harum namanya. Sama-sama berfaham tasawwuf. Soekarno dan Umar ada kemiripan.

Yang tak kalah menarik lagi adalah dari manakah asalnya luka yang ada didahinya Sokarno itu? Ternyata lukanya itu sudah ada sejak kecil akibat jatuh sewaktu bermain dibawah pohon beringin di halaman situs Ndalem Pojok.

Hal itu diungkapkan oleh RM Soeharyono, keponakan RM Soemosewoyo yang juga bapak angkat Soekarno.

“Rahasia mengapa Soekarno selalu memakai peci miring karena untuk menutupi luka di jidatnya akibat terjatuh ketika bermain di pohon beringin yang ada di depan rumahnya,” katanya.

Saat itu, Soekarno sering mengajak teman-temannya main ke Ndalem Pojok Wates di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Ya, dia bermain bersama dr Soetomo, R Sosrokartono (kakak kandung RA Kartini) dan HOS Tjokroaminoto dan juga Muso, tokoh PKI asal Kediri.

Soekarno pakai songgok agak miring ke kiri untuk menutupi lukanya

Di bawah pohon beringin, Soekarno dilatih oleh Tjokroaminoto untuk berorasi. Namun pohon beringin tempat dia latihan orasi itu ambruk karena diterjang angin pada 1970an.

“Keluarga kami sempat mendapat intimidasi dari militer atas ambruknya pohon beringin. Kami dikira tidak pro Orde Baru,” kata Soeharyono.

Kini lokasi pohon beringin tempat di mana Soekarno berlatih orasi telah menjadi tiang bendera. Tempat itu saat ini digunakan untuk upacara menyambut hari besar nasional.* Suryaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *