Pernahkah Anda mendengar cerita  bahwa Soekarno Presiden Pertama RI pernah berjalan jongkok dimakam Rosulloh. Kisah ini menjadi satu peristiwa paling menghebohkan. Raja Saudi sampai takjub begitu juga orang-orang Arab disana, karena memang belum pernah terjadi sebelumnya. Peristiwa ini terjadi pada bulan Juli tahun 1955.

Dan tahukan Anda bahwa  tradisi ziarah dengan berjongkok  yang  dilakukan Soekarno ini  berawal kebiasaan dalam berziarah di makam Ndalem Pojok Kediri.  Saat Soekarno berziarah di Makam RMP. Soemohatmodjo  kakek angkatnya dan makam RMP. Soemosewojo ayah angkatnya.

Zairah ke makam Rosululloh

Pada tahun 1955 Soekarno mengadakan kunjungan ke makam Rosulloh. Begitu tiba di Lapangan Terbang Jeddah, Raja Saud bin Abdul Aziz menyambutnya. Acara dilanjutkan pengibaran bendera Merah-Putih, penembakan meriam 21 kali, pemutaran lagu kebangsaan, barisan kehormatan, dan perkenalan. Rombongan lalu dijamu di Istana Raja.

Sukarno datang bukan hanya sebagai seorang muslim tapi juga seorang kepala negara bersama 31 rombongan. Saat berkunjung ke makam Rosululloh dan Soekarno diantar oleh Raja Saud bin Abdul Aziz.

Saat berjalan di Kota Madinah bersama Raja Saud, Bung Karno bertanya kepada sang raja, “Wahai Raja, dimana makamnya Rasulullah SAW ?”

Raja Saud menjawab, “Oh itu makam Rasulullah SAW sudah terlihat dari sini”. Seketika Bung Karno melepaskan sepatu dan juga atribut-atribut pangkat kenegaraannya.

Raja Saudi  heran. Ia lalu bertanya  kepada Bung Karno. “Kenapa Anda melepaskan itu semua?”

Bung Karno menjawab dengan tegas: “Yang ada di sana itu Rasulullah SAW, pangkatnya tentu jauh lebih tinggi dari kita”.

Bung Karno berjalan merangkak menghampiri makam Rasulullah. Bung Karno pun tak kuasa menahan tangisnya di depan makam manusia agung itu. Bung Karno bersama rombongan sempat berdoa di samping makam Nabi Muhammad SAW.

Apa yang dilakukan Bung Karno saat ziarah ke Makam Nabi ini merupakan sebuah penghormatan sejati. Betapa besar ketundukan dan kecintaan seorang Sukarno kepada Rasulullah SAW, pembawa risalah Islam ke seluruh jagad raya.

Cerita ini disampaikan oleh Sayyid Husein Muthahar, pengarang lagu Hari Merdeka (17 Agustus tahun 45) yang ikut dalam rombongan teraebut.

Tradisi Soekarno lepas alas kaki dan jongkok diawali dari makam di Kediri

Ternyata kebiasaan Soekarno ziarah dengan melapas alas kaki dan berjalan jongkok ini sudah biasa dilakukan disalah satu malam di Kediri hingga ia menjadi Presiden. Dan bulan Januari Tahun 1946 adalah kisah yang juga membuat ribuan mata terperanjat  saat.

Kala itu Presiden Soekarno yang perpakain resmi kepresidenan dengan pengawalan lengkap dan disaksikan orang banyak, tiba-tiba melepas sepatu dan menyembah saat sampai di pintu gerbang makam. Lalu berjalan jongkok menuju pusara, kemudian menyembah lagi saat berada di depan pusara.

Salah satu saksi hidup yang masih bisa ditanya dari banyak orang yang menyaksikan itu adalah Muselim alias Mbah Lim 81 tahun warga Desa Pojok. Dalam kunjungan resmi setelah Soekarno diangkat menjadi Presiden.

“Beliau salah satu saksi yang masih hidup dan (Mbah Lem) dan insya Alloh masih bisa diatanya,” aku Kushartono Ketua  Harian Situs Ndalem Pojok Persada Soekarno.

Menurut Kushartono aturan melepas alas kaki dan berjalan jongkok saat ziarah makam sudah menjadi tradisi keluarga turun-temurun bahkan jauh sebelum Soekarno menjadi Presiden.  Maka tradisi ini berlaku untuk siapapun, termasuk Presiden Soekarno juga anak-anaknya jika berziarah di makam Ndalem Pojok.

“Saat putra-putri Bung Karno berziarah ya sama. Kita sampaikan tradisinya seperti ini. Bung Karno juga menjaga tradisi ini. Alhamdulillah mereka mengikuti,” tambah Kus.

Menurut Kushartono mungkin Soekarno hanya melakukan tradisi  ini di dua makam.  Makam RMP.  Soemohatmodjo Kediri dan makam Rosulloh di Madinah. Dia mengatakan saat berziarah dimakam  Pangeran Diponegoro Soekarno tidak melepas alas kaki dan berjalan jongkok begitu juga saat berziarah dimakan orang tuanya.

“Mungkin dimakam orang tuanya di Blitar pun Bung Karno tidak melepas alas kaki mulai dari pintu gerbang dan berjalan jongkok. Terbukti putra-putri Bung Karno juga tidak melakukan hal itu,” katanya. 

“Kami tidak bermaksud membanding-mandingkan. Kami hanya ingin mengatakan, insyaa Alloh karena kebiasaan di makam Ndalem Pojok maka Soekarno pun melakukan hal yang sama di makam Rosululloh. Di makam keluarga saja begitu, apalagi dimakam Rosululloh,” tambah Kus lagi.

Saat ini umat Islam sudah masuk di bulan Sya’ban, bulan yang didalamnya ada tradisi ziarah kubur menjelang bulan Romadlon. Semoga informasi ini bermanfaat.*Suryoku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *