Upacara 17

Sekalipun berada di desa kecil, Pojok.  Ndalem Pojok  “situs Bung Karno” Kediri  juga ingin  menurut  menumbuh suburkan kembali rasa cinta tanah air Indonesia dengan cara-cara sederhana tapi cukup bermakna.  Upacara bendera ada wong ndeso dan selamatan tumpengan tiap tanggal 17 Agustus Jam 10.00 pagi.

Sengaja di adakan biasa-biasa saja,  tidak seperti upacara-upacara pada umumnya yang terlihat formal dan kaku. Upacara pengibaran bendera sang merah putih   di Ndalem Pojok  “situs Bung Karno” Kediri lebih santai, apa adanya ala wong cilik.  Tidak harus ada pejabat atau militer, tidak wajib memakai seragam atau harus berpakaian rapi.   Pakai kaos oblongpun atau celana pendekpun  tidak dilarang. Tak perlu juga harus ribet-ribet cari pinjaman  sepatu, apalagi harus cari pinjaman kaos kaki,   sandal jepit ataupun nyekerpun diperbolehkan.

Jangan salah! bukan maksud kami untuk tidak menghargai bendera sang merah putih apalagi  atau meremehkan.  Kami sadar, dalam upacara 17 itu juga dilantunkan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, dibacakan  tesk proklamasi.  Sekali lagi bukan tidak menghargai.

Kami ingin apa adanya wong ndeso,  apa yang  dia punya sudah itu dipakai. Jangan karena terkendala pakaian atau status kemudian tidak ikut memperingati kemerdekaan bangsanya. Kemerdekaan ini milik kita bersama bukan hanya milik pejabat, pegawai, tokoh atau anak sekolahan.

Intinya, seolah-olah kami ingin mengajak  semua rakyat Indonesia ayo ingat pada kemerdekaan bangsa Indonesia, semuanya saja: tua, muda, kaya miskin semua.  Ini penting. Ingat pada Kemerdekaan bangsa  Indonesia tanggal (17 Agustus) tapi bukan pada kemerdekaan Republik Indonesia. Sekali lagi, bukan kemerdekaan  Republik tapi kemerdekaan bangsa. Ini sangat berbeda.

Selian itu, kami memiliki keyakinan menghormati, menghargai, menjujung tinggi Bendera Sang Merah Putih itu bukan hanya dengan makai baju yang rapi atau sepatu yang mengkilat.  Tapi menghormati, menghargai, menjujung tinggi Bendera Sang Merah Putih itu adalah dengan jiwa,  dengan hati. Untuk itu sekalipun tidak mampu memakai sepatu atau baju yang rapi, tapi berangkat dengan hati, niat dan jiwa yang mulia  itu sudah cukup. Baju nomer dua, nomer satu adalah  jiwa.

Untuk itu  sebaliknya.  Sekalipun memakai baju dan seragam yang rapi dan di ikuti barisan  yang lurus tapi jika tidak dibarengi  jiwa mulia itu sama saja bohong. Misal dia tetap rajin korupsi, mencuri uang negara, mementingkan kepentingan pribadi bukan kepentingan bangsa, justru ini yang namanya tidak menghormati bendera sang merah putih, tidak menghormati proklamasi, tidak menghormati Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Jangan tertipu dengan tampilan luar, tampilan dalam jauh lebih penting. Karena kami berpengang pada atsar bukan ritual.

Bagikan