Jati Diri

“Ndalem Pojok” begitu sejak 150 tahun lalu disebut. Rumah yang dibangun oleh RMP. Soemohatmodjo pada kisaran tahun 1850an ini, kala itu ibarat sebuah istana yang megah. Dijaga ketat oleh beberapa Abdi Ndalem, tidak boleh sembarangan orang masuk, bahkan ada adat dan tradisi tersendiri. Maklum, RMP. Soemohatmodjo adalah seorang Patih Ndalem Ingkang Sinuwun Pakubuwana IX yang ketika muda bernama BRMG Duksina.

Belakangan menurut buku “Trilogi Spiritualitas Bung Karno” Nda-lem Pojok layaknya Kawah Candradimuka bagi seorang pemimpin besar bangsa ini.  Soekarno kecil pernah menempati Ndalem Pojok ini. Sakit, diobati dan berganti nama dari Koesno menjadi Soekarno. Belajar berpidato dan berdiskusi bersama tokoh-tokoh pergerakan. Bahkan setelah diangkat menjadi Presiden RI pun Bung Karno masih menyempatkan berkunjung ke “Ndalem Pojok” ini.

Jauh sebelum “Kawah Candra-dimuka” itu dikemukakan oleh Dian Sukarno penulis buku tersebut, RMP. Soemohatmodjo sudah berwasiat agar kelak di samping rumah (kanan) dibangun sebuah Musolla dan (kiri) balai kesenian. Seolah menjadi suratan takdir wasiat dan penelitian itu bertemu. “Ndalem Pojok” tumbuh menjadi pusat berbagai kegiatan belajar-mengajar. Musholla sudah berdiri, sanggar budaya mulai dibangun dan berbondong-bondong generasi muda berdatangan. Kini Ndalem Pojok tak lagi tertutup seperti istana, sekarang justru terbuka lebar layaknya Kawah Candradimuka.

Kenyataan inilah yang mendorong kami terus berjuang demi kemanfa’atan umat, mengambil spirit Bung Karno sebagai Bapak Bangsa.  Harapan kami semua ini bisa menumbuhsuburkan Cinta Tanah Air Indonesia dalam ari seluas-luasnya. Menjunjung tinggu budaya luhur bangsa, ikut menjaga keutuhan NKRI, melanggengkan Bhinneka Tunggal Ika, menjiwai Garuda Pancasila,   menjunjung tinggi Sang Merah Putih, serta menjalankan nilia-nilai luhur Lagu Indonesia Raya.

Bagikan